Ojek Sepeda Ontel, Usia 80 Tahun Bukan Berarti Tidak Bisa Bekerja

Ojek Sepeda Ontel, Usia 80 Tahun Bukan Berarti Tidak Bisa Bekerja – Ojek sepeda bukan lagi moda transportasi umum yang gampang ditemui sekarang ini. Jumlahnya sudah semakin sedikit dan mayoritas pengemudinya sudah berusia diatas 40 tahun. Bahkan ada yang kini sudah menginjak usia 80 tahun. Slamet namanya di kawasan inilah Pak Slamet mangkal Jalan Gaya Motor II, Kelurahan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (7/1/2019).

 

Ojek Sepeda Ontel, Usia 80 Tahun

Bapak Slamet Ojek Sepeda Ontel, Usia 80 Tahun

Slamet sedang duduk santai tak jauh dari warung, tepatnya di dekat toilet umum. Ia baru saja mengurus sebuah karung yang berisi botol-botol plastik. Tampilannya cukup rapi untuk seorang penarik ojek sepeda. Dia mengenakan topi lebar pelindung diri dari sinar matahari. Dia memakai kaos berkerah yang longgar, celana abu-abu, serta sepatu kusam. Wajahnya yang keriput dan warna kulitnya yang terbakar matahari seperti menyiratkan bahwa ia sudah lama bergelut menjalani pekerjaan ini.

Di usia yang sudah 80 tahun, giginya sudah tak lagi lengkap. Intonasi berbicaranya sesekali cepat. Namun saat ucapannya tidak dimengerti, dia bersedia mengulangi kalimatnya. “Saya ngojek mulai tahun 1966 ya, di daerah Tembok Bolong,” ujarnya. Sebelumnya, pria tua asal Jember ini bekerja mengantarkan buah dengan mobil bak dari Singaraja Bali ke Surabaya. Namun saat memutuskan hijrah ke Jakarta, pekerjaan sebagai ojek sepedalah yang dipilihnya.

Poker Online Rupiah Saat ini, Slamet sudah tak banyak mendapat penumpang. Jika dulu dia bisa mendapatkan banyak, kini hanya dua penumpang per hari saja yang biasa didapatnya. “Ngojek 2 kali sudah jago. Nggak kayak dulu. Dulu bisa 5 kali, 6 kali, 7 kali. Sekarang 2 kali. Kecil makanya. Sehari biasanya 2 kali,” ujarnya menjelaskan.

Minimnya penumpang yang didapat berimbas pada pemasukannya. Jarak tempuh yang tidak jauh membuatnya hanya bisa mendapat Rp 5 ribu sekali antar. Ia pun mencari pemasukan tambahan dengan mengumpulkan botol-botol plastik bekas untuk dijual kembali. “Nanti dikasih uang, Rp 20 ribu, Rp 15 ribu. Dikumpulin uangnya, kalau sudah banyak, nanti dikirim (ke kampung),” ujarnya.

Pemasukan yang kurang dari Rp 50 ribu per harinya itu masih akan dikumpulkan olehnya, untuk dikirim kepada istrinya yang tinggal di Jember. Untungnya, di usia saat ini, anak-anak Slamet yang sekarang berjumlah tiga orang sudah hidup mandiri. Istrinya pun tinggal bersama anak bungsunya. “Pemasukan saya di sini, Pak. Di kampung apa? Mandiri gimana?” pungkasnya.

Berita Terkait :

  • Transportasi Umum
  • Sepeda Ontel
  • Ojek Ontel
  • DKI Jakarta

Promo KaisarPoker 2018 
– Bonus 10% New Member *Poker
– Bonus 20% New Member *Sportsbook
– Bonus 10% Next Deposit *Sportsbook & LiveCasino
– Cashback 10% Semua Permainan
– Bonus Referral s/d 5%
Untuk lebih lanjut lihat di www.kaisar.poker
Hubungi kami :
BBM : KAISAR88
LINE : KAISARPOKER
WA : +855-8693-6788

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *